
JAKARTA – Hasil studi Greenomics Indonesia tentang hutan di Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) memperlihatkan ancaman yang sangat serius. Deforestasi atau
penebangan tutupan hutan selama kurun waktu 2002-2004 mencapai 200 ribu hektar.
Hampir 60 persen praktek deforestasi terjadi dikawasan dan hutan lindung termasuk
Taman Nasional Gunung Leuser. Akibatnya, degradasi hutan Aceh mencapai 1,87 juta
hektar.
Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia Elfian Effendi dalam pernyataannya kepada
Serambi di Jakarta, Jumat (20/1), menyebutkan lebih dari 81 persen deforestasi terjadi
pada 11 kabupaten di sepanjang pantai barat-selatan dan Aceh bagian tengah. “Lebih dari
83 degradasi hutan juga tersebar pada kawasan hutan di kabupaten-kabupaten tersebut,”
tukas Elfian, yang juga alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Syah Kuala (Unsiyah)
Banda Aceh.
Tujuh kabupaten disepanjang barat-selatan menyumbang deforestasi sebesar 45,37
persen, sedang empat kabupaten pada wilayah bagian tengah menyumbang 36,25 persen.
Sisanya tersebar disepanjang pantai utara, timur dan pulau-pulau diwilayah administrasai
Provinsi NAD. Menurut Elfian, tingkat deforestasi itu justru meruyak pada saat
penghentian sementara penebangan kayu Aceh (moratorium logging) mencapai 115 ribu
hektar kawasan konservasi dan hutan lindung.
Sementara itu prediksi spasial Greenomics menunjukkan selama 2005-2006 diperkirakan
deforestasi hutan Aceh mencapai angka 266 ribu hektar atau setara 4 kali lipat luas
Singapura dengan luas degradasi mencapai 2,2 juta hektar, setara 44 persen dari total luas
daratan Aceh. Greenomics mengkhawatirkan tragedi ekologi akan mengancam Aceh
seperti banjir bandang, tanah longsor dan kekeringan dalam skala besar. Investasi
rekonstruksi dan proses pemulihan sektor riil di Aceh juga dikuatirkan akan terimbas efek
negatifnya.
Untuk itu Greenomics meminta BRR harus memperhatikan secara serius kondisi ekologi
hutan Aceh tersebut dan mengambil tindakan dan kebijakan preventif yang cepat dan
tepat. “Rekonstruksi Aceh tidak bisa mengabaikan kondisi deforestasi dan degradasi
hutan Aceh tersebut, karena proses rekonstruksi telah mendorong tingkat deforestasi dan
degradasi hutan meningkat cepat selama ini sebagai akibat dari terbatasnya solusi
pemenuhan kebutuhan kayu,” demikian Elfian.(fik)






0 komentar:
Posting Komentar