Pemerintah Aceh telah mengkampanyekan konsep dan gagasan tersebut baik dalam forum nasional maupun internasional. Konsep dan gagasan tersebut pertama sekali dideklarasikan pada forum pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim (climate change) di Bali pada akhir tahun 2009. Pemerintah Aceh secara aktif terus mengikuti pertemuan tersebut termasuk menghadiri pertemuan Kopenhagen.
Aceh yang memiliki Taman Nasional Leuser dan Kawasan Ulu Masen merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia, karena memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity) yang sangat tinggi. Pada tahun ini Aceh menjadi tuan rumah Perhelatan akbar Governors Climate Change dan Forest Taskforce tersebut. Pertemuan ini sangat strategis bagi provinsi paling ujung bagian barat Indonesia ini dan berada di tengah-tengah berbagai kawasan yang diprediksikan menjadi kawasan tersibuk di dunia dimasa akan datang. Pertemuan ini sebenarnya menjadi ajang dan kampanye Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan dengan memperhatikan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan, namun pertemuan begitu penting dan strategis ini belum dikemas sedemikian rupa sehingga menarik orang luar untuk datang dan berkunjung ke Aceh.
Para ahli di seluruh dunia telah sepakat bahwa hamparan hutan alam Aceh merupakan salah satu hutan tropis yang kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Sangat beralasan dunia menaruh perhatian yang sangat besar pada hutan Aceh, tatkala negara-negara lain terutama negara industri maju hutannya sudah diekploitasi dan hancur. Semua pihak mengharapkan hutan Aceh tetap dipertahankan sebagai kawasan hutan yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi di dunia. Kondisi ini merupakan suatu keunggulan bagi Aceh sekaligus sebagai tantangan mengingat besarnya perhatian masyarakat internasional terhadap hutan Aceh. Namun sayangnya posisi tawar-menawar Aceh masih sangat rendah. Aceh belum bisa menunjukkan pada masyarakat dunia suatu kawasan yang dikelola secara terpadu dengan melibatkan peran aktif masyarakat setempat dan stakeholder lainnya dengan prinsip-prinsip Aceh Green Vision. Kawasan ini bisa dijadikan kawasan wisata yang sangat menguntungkan dengan berbagai fasilitas antraksi yang disediakan negara. Menariknya lagi apabila kawasan itu dibuat di dalam kawasan hutan (habitat in situ). Masyarakat bisa menyaksikan harimau, gajah, buaya, orang utan serta beberapa satwa liar lainnya di dalam kawasan hutan. Masyarakat bisa menyaksikan satwa-satwa liar tersebut melalui kereta gantung (cabel car) atau melalui menara atau melalui kenderaan yang disediakan piahk pengelola.
Korea Selatan dengan Konsep Korean Green Vision berhasil membuat dan mengkampanyekan ide ini dengan sangat mencengangkan dunia, walaupun tanpa ada satwa liar dan keanekaragaman hayati lainnya yang sangat terbatas. Korea Selatan berhasil menyulap kawasan industri dengan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan. Sejumlah Taman Nasional seperti Seoraksan, Kebun Raya, Museum Kupu-Kupu, Museum Kayu telah dibangun dan dikelola dengan sangat professional. Kawasan-kawasan ini telah dikunjungi ribuan wisatawan dalam dan luar negeri setiap harinya dan telah mendatang devisa yang sangat besar bagi negara.
Korea Selatan juga berhasil membuat animasi dan fenomena-fenomena alam seperti terjadinya banjir, tanah longsor, kekeringan dan lain-lain yang sangat menakjubkan dunia sehingga mendatangkan puluhan pelajar dan mahasiswa untuk belajar setiap harinya ke Korea tidak mengherankan sejumlah kayu tropis dari Aceh seperti Kruing (Dipterocarpacea sp), Meranti (Shorea sp) terkoleksi dengan baik di Museum Kayu di negara yang tidak pernah ditumbuhi kayu-kayu tropis ini. Pemerintah Korea Selatan juga setiap tahunnya mengundang sejumlah organisasi massa, mahasiswa dan pelajar maupun tokoh-tokoh dunia untuk datang dan menyaksikan kemajuan Korea dengan Korean Vision Green.
Ini menunjukkan bahwa nilai ekonomi kawasan konservasi apabila dikelola dengan baik dan serius akan mendatangkan efek ganda yang sangat besar bagi daerah. Kunjungan dan daya tarik masyarakat dunia untuk datang ke Aceh menyaksikan sejumlah antraksi wisata alam ini akan memberikan efek ganda ke sektor lain terutama jasa transportasi seperti penerbangan, taxi, kenderaan umum, rumah makan dan penginapan yang kesemuanya menjadi PAD Pemerintah Aceh.
Ke depan apabila visi ini dijalankan secara terpadu dalam suatu paket yang terintegrasi dan dikemas dengan baik termasuk promosinya secara gencar dan besar-besaran, maka akan memberikan altenatif pilihan menarik bagi masyarakat dunia untuk berkunjung ke Aceh. Hal ini akan lebih menarik lagi apabila dikemas dengan paket wisata tour tsunami dan wisata bahari Sabang serta paket wisata islami lainnya. Tentu hal ini akan membuat orang betah dan senang untuk tinggal berlama-lama dan menghabiskan uangnya di Aceh.
Sayangnya sudah lebih setahun Aceh Green Vision dideklarasikan, demikian juga Museum Tsunami, Taman ‘Thank The World’ yang telah diresmikan Presiden SBY beserta sejumlah artifak lain seperti PLTD Apung, Kapal diatas rumah, belum mampu dikelola dengan baik sehingga menjadi tujuan yang menarik bagi masyarakat dunia berkunjung ke Aceh.
Saya yakin apabila semua pihak sepakat dan mengelola secara serius dan dijadikan agenda Visi Aceh 2025, Aceh yang menjadi pusat pembelajaran lingkungan dan kearifan terhadap sumberdaya alam serta kesiagaan terhadap bencana menjadi daya tarik tersendiri bagi Aceh yang diperkaya dengan kultur dan budaya setempat, demikian juga halnya dengan pembelajaran demokrasi akan terwujud, insya Allah.












